وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيارِكُمْ ما فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا ما يُوعَظُونَ بِهِ لَكانَ خَيْراً لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً ، وَإِذاً لَآتَيْناهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْراً عَظِيماً، وَلَهَدَيْناهُمْ صِراطاً مُسْتَقِيماً
“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami. Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus” (Surah an-Nisa [4]: 66-68)
Muqaddimah
Sabab nuzul ayat di atas terkait dengan sahabat Tsabit bin Qays bin Syimas yang saling berbangga diri dengan seorang Yahudi.
Orang Yahudi itu berkata: Demi Allah, Allah pernah menyuruh kami agar membunuh diri-diri kami, lalu kami lakukan. Bahkan mencapai tujuh puluh ribu orang lebih. Mendengar ucapan itu, Tsabit lalu berkata: Sekiranya Allah menetapkan, bunuhlah diri kalian tentu saja kami tak segan menyambut seruan tersebut.
Dalam riwayat lain, ketika ayat ini turun, seorang laki-laki berkata:
Jika kami diperintahkan niscaya kami siap melakukannya. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan kepada kami. Ucapan itu lalu sampai kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw). Nabi bersabda: Sesungguhnya diantara umatku ada yang keimanan di dalam hatinya lebih kokoh dari gunung yang paling kokoh sekalipun. Dari jalur berbeda, ucapan tersebut disandarkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq yang berkata: Sekiranya hal itu diwajibkan, sungguh saya akan memulainya dari diri dan keluarga saya sendiri . (Tafsir al-Jami’ li Ahkam al- Qur’an, Abu Abdillah Muhammad al-Qurthubi)
Makna ayat
Seorang mufassir (ulama tafsir) Imam Abdurrahman Nashir as-Sa’di, mengawali penjelasannya dengan mengajak setiap Muslim memperbanyak pujian dan bersyukur kepada Allah Sang Pencipta.
Ayat ini menjadi “garansi” betapa beratnya ketaatan kepada Allah, terlebih jika hal itu berseberangan dengan keinginan nafsu dan dorongan jiwanya. Contoh, jika Allah perintahkan bunuhlah diri kalian atau keluarlah dari rumahmu. Dia menjamin, sangat sedikit yang bisa melakukannya meski Allah mengibaratkan dan mengaitkan perintah tersebut sebagai konsekuensi dari keimanan seorang hamba sekalipun.
Olehnya, bersyukur menjadi pilihan tak terelakkan bagi setiap Muslim. Dengan segala karunia nikmat yang diberikan kepada setiap makhluk-Nya, Allah tidak juga sampai menyuruh hamba-Nya untuk membunuh dirinya dan mengusirnya dari kampung halamannya. Meski demikian, harus diakui sudah begitu banyak perintah Allah yang kita ingkari dan berbagai larangan yang kita langgar selama ini. Padahal, boleh jadi dengan segala kemurahan Allah, semua itu belum sebanding dengan seluruh pemberian dan karunia nikmat-Nya, sejak awal penciptaan bumi dan langit ini hingga tiba hari Kiamat kelak.
Buah manis dari kebaikan
Ayat di atas juga mengandung busyrah (kabar gembira) bagi orang-orang yang selama ini istiqamah mengerjakan perintah agama.
Setidaknya ada empat hal yang disebut langsung oleh Allah sebagai janji yang datang dari Zat Yang Maha Menepati janji-Nya. Pertama, hamba tersebut beroleh kebaikan dan dicap baik oleh Allah (la kana khairan lahum). Adanya “stempel” kebaikan dari Allah tentu saja menjadi alamat keberuntungan buat hamba tersebut. Tsubutu syain yastalzimu nafya dhiddihi, demikian sebuah kaidah menerangkan. Ketika sebuah warna dominan menetapi sesuatu, dengan sendirinya warna yang dominan itu menafikan warna selain dirinya. Jika seorang Muslim sudah dicap baik oleh Allah, tentu saja perilakunya senantiasa baik dan ia menjadi ringan melakukan kebaikan apa saja dengan bantuan Allah Ta’ala.
Kedua, seorang Muslim mendapat jaminan keteguhan iman dari Allah (wa asyadda tatsbitan). Jika ia istiqamah menegakkan ajaran agamanya, niscaya Allah tak sungkan menolongnya dengan memberinya keteguhan iman dan mengokohkannya. Bagi seorang Muslim, keteguhan iman adalah harga mati yang yang tak bisa ditawar. Terlebih di akhir zaman sekarang, di saat dunia diselimuti dengan fitnah dan syubhat agama yang merajalela. Ketika ketaatan dan kemaksiatan tak lagi bisa dikenali dengan mudah. Orang-orang menyanjung pelaku keburukan dan menghormatinya, sedang orang-orang baik justru terpinggirkan dan menjadi orang-orang asing di lingkungannya.
Ketiga, orang-orang yang gemar melaksanakan perintah agamanya niscaya mendapat ganjaran pahala yang besar (laataynahum min ladunna ajran adziman). Cukuplah orang beriman itu diberi janji memperoleh ganjaran yang datang dari sisi Allah Ta’ala. Sebab ganjaran tersebut berlaku di dunia dan terlebih di akhirat nanti. Di dunia ia bakal mendapatkan ketenangan serta kebahagiaan jiwa. Sedang di surga, orang-orang beriman itu memperoleh apa-apa yang selama ini belum pernah terlihat oleh mata mereka. Sesuatu yang ia belum dengar sebelumnya, bahkan tak terjangkau oleh khayalan hati dan fikiran manusia sekalipun.
Keempat, pelaku kebaikan itu mendapat jaminan hidayah dari Allah (wa lahadynahum shirathan mustaqiman). Pastinya Kami tunjuki ia ke jalan yang lurus, begitu janji Allah kepada hamba-Nya. Imam as-Sa’di mengurai persoalan ini dengan berkata: Hal ini merupakan bentuk keumuman makna setelah pengkhususannya. Yaitu, dari kemuliaan hidayah menuju jalan yang lurus. Orang yang beroleh hidayah umumnya mengenal kebenaran (al-haq), mencintai serta mengamalkannya. Bahkan tak jarang ia siap memperjuangkan kebenaran tersebut. Alhasil, jalan kebaikan (shirath mustaqim) itu dengan sendirinya mengantar orang tersebut merasakan kebahagiaan dan ketenangan di dalam jiwanya.
Categories:







0 komentar:
Posting Komentar