Selasa, 06 Mei 2014

Ayah kamu adalah super hero ku

Posted by Unknown On 21.23
Jika ditanya "Di antara ayah dan ibu, siapa yang paling hebat?" apa jawaban Anda? Masyarakat Indonesia memiliki sebuah tradisi bahwa ibu adalah orang yang paling berjasa di dalam hidup. 

Bahkan ada istilah surga di telapak kaki ibu. Benar bahwa seorang wanita akan berjuang habis-habisan mengantar Anda menuju sebuah kehidupan. Namun jika Anda lihat kembali, seorang ayah juga sama-sama berjuang untuk kehidupan Anda. 

Hanya saja, seorang ayah, seperti pria pada umumnya, tidak mau menunjukkan kasih sayangnya seperti ibu. Walau seringkali seorang ayah mencintai anak-anaknya secara diam-dia, cinta mereka sama besarnya seperti seorang ibu. Jadikanlah tulisan-tulisan ini sebagai sebuah renungan. Seorang ayah mungkin tidak akan menelepon anaknya saat sedang jauh. Tetapi ayah selalu bertanya pada ibu bagaimana kabar Anda, apakah di sana Anda baik-baik saja, apakah Anda makan teratur dan sebagainya. 

Kadang, ayahlah yang menitip pertanyaan saat ibu menelepon anak-anaknya. Namun ayah jarang mau bicara langsung, karena dia ingin Anda mandiri, dan juga.. seorang ayah tidak mau terlihat merindukan anak-anaknya, karena dia tidak ingin Anda mencemaskannya. 


Dikisahkan seorang anak perempuan berada dalam ambang rasa frustasi karena penolakan dari sejumlah sekolah kedokteran yang menjadi cita-citanya. Saat ia menaiki tangga menuju lantai atas, ia mendengar ayahnya berbicara dengan temannya melalui telepon. Itu hal yang tak biasa karena ayahnya jarang menelepon dan bukan tipe orang yang senang bergaul. 

Ada satu kalimat dari perbincangan tersebut yang membuat si anak begitu terperangah. “Ya, putri saya, Meg, akan masuk sekolah kedokteran musim gugur mendatang. Meskipun ia belum yakin akan bersekolah di mana.” Kepala anak gadis itu terasa pusing, ia merasa seolah akan pingsan. Ia baru saja ditolak di sana-sini, namun sang ayah berbicara begitu yakinnya. 

 “Kata-katanya tidak mengubah arah hidup saya. Tapi intonasi, perubahan suara, dan kepercayaan dirinya meninggalkan dampak luar biasa. Satu kalimat yang mengubah hidup saya,” ujar sang anak. Berkat keyakinan sang ayah, gadis itu berhasil diterima di Fakultas Kedokteran dan menjalani perkuliahan dengan sungguh-sungguh hingga sukses. Siapakah gadis tersebut? Ia adalah Dr Meg Meeker, yang selama 20 tahun melakukan penelitian pada sejumlah anak perempuan yang datang untuk konseling. 


Data dan pengalaman klinisnya menunjukkan bahwa peran ayah sangat menentukan arah hidup anak-anak perempuan mereka. Dalam bukunya Strong Fathers, Strong Daughters ia menyatakan, faktor terpenting seorang ayah dalam pertumbuhan anak perempuan adalah dalam hal memegang teguh nilai-nilai konservatif. Ayah seperti itu merupakan pelindung terbaik dari gangguan pola makan, kegagalan di sekolah, hamil di luar nikah, prestasi akademik, pernikahan yang sukses, dan kehidupan emosional yang memuaskan. Paparan di atas mengingatkan kita pada sebuah kisah yang jauh lebih dahsyat yang ditulis di Shahih Muslim dalam kitab Zikir wad-Dua’ pada bab Tasbih di Awal Siang dan Tatkala Hendak Tidur . 


 Dikisahkan oleh Ali RA bahwa istrinya, Fatimah Az-Zahra RA hidup dalam kesulitan dengan pekerjaan sehari-harinya. Ali RA berkata, “Wahai Rasulullah SAW, Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air hingga berbekas di dadanya. Ketika kutahu beberapa hamba sahaya datang kepada Anda, aku menyuruh Fatimah agar menemui dan meminta pelayan dari Anda guna meringankan bebannya.” Rasulullah SAW lalu berkata, “Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang kalian minta dariku? Jibril mengajarkan padaku, hendaklah kalian mengucapkan: subhanallah setiap selesai shalat 10 kali, alhamdulillaah 10 kali dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, ucapkan subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 33 kali.” Ajaran sang ayah begitu melekat di hati Fathimah RA. Hingga ia dikenal sebagai orang yang hidup dalam kesulitan, tapi mulia dan terhormat. 


Suatu kali, ia mengangkut air dalam sebuah qirbah dan bekal di atas punggungnya untuk memberi makan kaum Muslimin yang berjihad. Kisah di atas sangat jelas menunjukkan bahwa betapa besar peran seorang ayah bagi anak perempuannya dalam hal menanamkan prinsip dan nilai-nilai. Justru karena sangat menyayangi putrinya, Rasulullah SAW bukan memanjakannya, namun dengan tegas menunjukkan jalan menuju kemuliaan hingga Fathimah RA dikenal sebagai pemimpin wanita-wanita mukmin dan penghuni surga yang paling utama.* Penulis Buku Mendidik Karakter dengan Karakter.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

  • Unordered List

  • Contact us