Enter Slide 1 Title Here

Go to Template. Click on Edit HTML. Replace these texts with your own description. This template was designed by NewBloggerThemes.com ...

Enter Slide 2 Title Here

Go to Template. Click on Edit HTML. Replace these texts with your own description. This template was designed by NewBloggerThemes.com ...

Enter Slide 3 Title Here

Go to Template. Click on Edit HTML. Replace these texts with your own description. This template was designed by NewBloggerThemes.com ...

Enter Slide 4 Title Here

Go to Template. Click on Edit HTML. Replace these texts with your own description. This template was designed by NewBloggerThemes.com ...

Selasa, 06 Mei 2014

Buah Manis Taat Pada Allah

Posted by Unknown On 21.29


وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيارِكُمْ ما فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا ما يُوعَظُونَ بِهِ لَكانَ خَيْراً لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً ، وَإِذاً لَآتَيْناهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْراً عَظِيماً، وَلَهَدَيْناهُمْ صِراطاً مُسْتَقِيماً 

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami. Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus” (Surah an-Nisa [4]: 66-68) Muqaddimah Sabab nuzul ayat di atas terkait dengan sahabat Tsabit bin Qays bin Syimas yang saling berbangga diri dengan seorang Yahudi. 

Orang Yahudi itu berkata: Demi Allah, Allah pernah menyuruh kami agar membunuh diri-diri kami, lalu kami lakukan. Bahkan mencapai tujuh puluh ribu orang lebih. Mendengar ucapan itu, Tsabit lalu berkata: Sekiranya Allah menetapkan, bunuhlah diri kalian tentu saja kami tak segan menyambut seruan tersebut. Dalam riwayat lain, ketika ayat ini turun, seorang laki-laki berkata: 

Jika kami diperintahkan niscaya kami siap melakukannya. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan kepada kami. Ucapan itu lalu sampai kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw). Nabi bersabda: Sesungguhnya diantara umatku ada yang keimanan di dalam hatinya lebih kokoh dari gunung yang paling kokoh sekalipun. Dari jalur berbeda, ucapan tersebut disandarkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq yang berkata: Sekiranya hal itu diwajibkan, sungguh saya akan memulainya dari diri dan keluarga saya sendiri . (Tafsir al-Jami’ li Ahkam al- Qur’an, Abu Abdillah Muhammad al-Qurthubi) Makna ayat Seorang mufassir (ulama tafsir) Imam Abdurrahman Nashir as-Sa’di, mengawali penjelasannya dengan mengajak setiap Muslim memperbanyak pujian dan bersyukur kepada Allah Sang Pencipta. 

Ayat ini menjadi “garansi” betapa beratnya ketaatan kepada Allah, terlebih jika hal itu berseberangan dengan keinginan nafsu dan dorongan jiwanya. Contoh, jika Allah perintahkan bunuhlah diri kalian atau keluarlah dari rumahmu. Dia menjamin, sangat sedikit yang bisa melakukannya meski Allah mengibaratkan dan mengaitkan perintah tersebut sebagai konsekuensi dari keimanan seorang hamba sekalipun. Olehnya, bersyukur menjadi pilihan tak terelakkan bagi setiap Muslim. Dengan segala karunia nikmat yang diberikan kepada setiap makhluk-Nya, Allah tidak juga sampai menyuruh hamba-Nya untuk membunuh dirinya dan mengusirnya dari kampung halamannya. Meski demikian, harus diakui sudah begitu banyak perintah Allah yang kita ingkari dan berbagai larangan yang kita langgar selama ini. Padahal, boleh jadi dengan segala kemurahan Allah, semua itu belum sebanding dengan seluruh pemberian dan karunia nikmat-Nya, sejak awal penciptaan bumi dan langit ini hingga tiba hari Kiamat kelak. Buah manis dari kebaikan Ayat di atas juga mengandung busyrah (kabar gembira) bagi orang-orang yang selama ini istiqamah mengerjakan perintah agama. 

Setidaknya ada empat hal yang disebut langsung oleh Allah sebagai janji yang datang dari Zat Yang Maha Menepati janji-Nya. Pertama, hamba tersebut beroleh kebaikan dan dicap baik oleh Allah (la kana khairan lahum). Adanya “stempel” kebaikan dari Allah tentu saja menjadi alamat keberuntungan buat hamba tersebut. Tsubutu syain yastalzimu nafya dhiddihi, demikian sebuah kaidah menerangkan. Ketika sebuah warna dominan menetapi sesuatu, dengan sendirinya warna yang dominan itu menafikan warna selain dirinya. Jika seorang Muslim sudah dicap baik oleh Allah, tentu saja perilakunya senantiasa baik dan ia menjadi ringan melakukan kebaikan apa saja dengan bantuan Allah Ta’ala. 

Kedua, seorang Muslim mendapat jaminan keteguhan iman dari Allah (wa asyadda tatsbitan). Jika ia istiqamah menegakkan ajaran agamanya, niscaya Allah tak sungkan menolongnya dengan memberinya keteguhan iman dan mengokohkannya. Bagi seorang Muslim, keteguhan iman adalah harga mati yang yang tak bisa ditawar. Terlebih di akhir zaman sekarang, di saat dunia diselimuti dengan fitnah dan syubhat agama yang merajalela. Ketika ketaatan dan kemaksiatan tak lagi bisa dikenali dengan mudah. Orang-orang menyanjung pelaku keburukan dan menghormatinya, sedang orang-orang baik justru terpinggirkan dan menjadi orang-orang asing di lingkungannya. 

Ketiga, orang-orang yang gemar melaksanakan perintah agamanya niscaya mendapat ganjaran pahala yang besar (laataynahum min ladunna ajran adziman). Cukuplah orang beriman itu diberi janji memperoleh ganjaran yang datang dari sisi Allah Ta’ala. Sebab ganjaran tersebut berlaku di dunia dan terlebih di akhirat nanti. Di dunia ia bakal mendapatkan ketenangan serta kebahagiaan jiwa. Sedang di surga, orang-orang beriman itu memperoleh apa-apa yang selama ini belum pernah terlihat oleh mata mereka. Sesuatu yang ia belum dengar sebelumnya, bahkan tak terjangkau oleh khayalan hati dan fikiran manusia sekalipun. Keempat, pelaku kebaikan itu mendapat jaminan hidayah dari Allah (wa lahadynahum shirathan mustaqiman). Pastinya Kami tunjuki ia ke jalan yang lurus, begitu janji Allah kepada hamba-Nya. Imam as-Sa’di mengurai persoalan ini dengan berkata: Hal ini merupakan bentuk keumuman makna setelah pengkhususannya. Yaitu, dari kemuliaan hidayah menuju jalan yang lurus. Orang yang beroleh hidayah umumnya mengenal kebenaran (al-haq), mencintai serta mengamalkannya. Bahkan tak jarang ia siap memperjuangkan kebenaran tersebut. Alhasil, jalan kebaikan (shirath mustaqim) itu dengan sendirinya mengantar orang tersebut merasakan kebahagiaan dan ketenangan di dalam jiwanya.

Ayah kamu adalah super hero ku

Posted by Unknown On 21.23
Jika ditanya "Di antara ayah dan ibu, siapa yang paling hebat?" apa jawaban Anda? Masyarakat Indonesia memiliki sebuah tradisi bahwa ibu adalah orang yang paling berjasa di dalam hidup. 

Bahkan ada istilah surga di telapak kaki ibu. Benar bahwa seorang wanita akan berjuang habis-habisan mengantar Anda menuju sebuah kehidupan. Namun jika Anda lihat kembali, seorang ayah juga sama-sama berjuang untuk kehidupan Anda. 

Hanya saja, seorang ayah, seperti pria pada umumnya, tidak mau menunjukkan kasih sayangnya seperti ibu. Walau seringkali seorang ayah mencintai anak-anaknya secara diam-dia, cinta mereka sama besarnya seperti seorang ibu. Jadikanlah tulisan-tulisan ini sebagai sebuah renungan. Seorang ayah mungkin tidak akan menelepon anaknya saat sedang jauh. Tetapi ayah selalu bertanya pada ibu bagaimana kabar Anda, apakah di sana Anda baik-baik saja, apakah Anda makan teratur dan sebagainya. 

Kadang, ayahlah yang menitip pertanyaan saat ibu menelepon anak-anaknya. Namun ayah jarang mau bicara langsung, karena dia ingin Anda mandiri, dan juga.. seorang ayah tidak mau terlihat merindukan anak-anaknya, karena dia tidak ingin Anda mencemaskannya. 


Dikisahkan seorang anak perempuan berada dalam ambang rasa frustasi karena penolakan dari sejumlah sekolah kedokteran yang menjadi cita-citanya. Saat ia menaiki tangga menuju lantai atas, ia mendengar ayahnya berbicara dengan temannya melalui telepon. Itu hal yang tak biasa karena ayahnya jarang menelepon dan bukan tipe orang yang senang bergaul. 

Ada satu kalimat dari perbincangan tersebut yang membuat si anak begitu terperangah. “Ya, putri saya, Meg, akan masuk sekolah kedokteran musim gugur mendatang. Meskipun ia belum yakin akan bersekolah di mana.” Kepala anak gadis itu terasa pusing, ia merasa seolah akan pingsan. Ia baru saja ditolak di sana-sini, namun sang ayah berbicara begitu yakinnya. 

 “Kata-katanya tidak mengubah arah hidup saya. Tapi intonasi, perubahan suara, dan kepercayaan dirinya meninggalkan dampak luar biasa. Satu kalimat yang mengubah hidup saya,” ujar sang anak. Berkat keyakinan sang ayah, gadis itu berhasil diterima di Fakultas Kedokteran dan menjalani perkuliahan dengan sungguh-sungguh hingga sukses. Siapakah gadis tersebut? Ia adalah Dr Meg Meeker, yang selama 20 tahun melakukan penelitian pada sejumlah anak perempuan yang datang untuk konseling. 


Data dan pengalaman klinisnya menunjukkan bahwa peran ayah sangat menentukan arah hidup anak-anak perempuan mereka. Dalam bukunya Strong Fathers, Strong Daughters ia menyatakan, faktor terpenting seorang ayah dalam pertumbuhan anak perempuan adalah dalam hal memegang teguh nilai-nilai konservatif. Ayah seperti itu merupakan pelindung terbaik dari gangguan pola makan, kegagalan di sekolah, hamil di luar nikah, prestasi akademik, pernikahan yang sukses, dan kehidupan emosional yang memuaskan. Paparan di atas mengingatkan kita pada sebuah kisah yang jauh lebih dahsyat yang ditulis di Shahih Muslim dalam kitab Zikir wad-Dua’ pada bab Tasbih di Awal Siang dan Tatkala Hendak Tidur . 


 Dikisahkan oleh Ali RA bahwa istrinya, Fatimah Az-Zahra RA hidup dalam kesulitan dengan pekerjaan sehari-harinya. Ali RA berkata, “Wahai Rasulullah SAW, Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air hingga berbekas di dadanya. Ketika kutahu beberapa hamba sahaya datang kepada Anda, aku menyuruh Fatimah agar menemui dan meminta pelayan dari Anda guna meringankan bebannya.” Rasulullah SAW lalu berkata, “Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang kalian minta dariku? Jibril mengajarkan padaku, hendaklah kalian mengucapkan: subhanallah setiap selesai shalat 10 kali, alhamdulillaah 10 kali dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, ucapkan subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 33 kali.” Ajaran sang ayah begitu melekat di hati Fathimah RA. Hingga ia dikenal sebagai orang yang hidup dalam kesulitan, tapi mulia dan terhormat. 


Suatu kali, ia mengangkut air dalam sebuah qirbah dan bekal di atas punggungnya untuk memberi makan kaum Muslimin yang berjihad. Kisah di atas sangat jelas menunjukkan bahwa betapa besar peran seorang ayah bagi anak perempuannya dalam hal menanamkan prinsip dan nilai-nilai. Justru karena sangat menyayangi putrinya, Rasulullah SAW bukan memanjakannya, namun dengan tegas menunjukkan jalan menuju kemuliaan hingga Fathimah RA dikenal sebagai pemimpin wanita-wanita mukmin dan penghuni surga yang paling utama.* Penulis Buku Mendidik Karakter dengan Karakter.

Demi Hijab

Posted by Unknown On 21.16
Apa sih yang bisa dilakukan seorang gadis remaja muslim yang berusia 16 tahun? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin beragam. Tapi apa yang dilakukan oleh Amara Majeed sungguh luar biasa. Di usia 16 tahun, ia sudah membuat The Hijab Project. Seperti yang dilansir oleh bustle.com, 

proyek ini dibuat untuk meningkatkan pemahaman dan rasa saling mengerti antara umat muslim dan non-muslim di Amerika. Di dalam situs The Hijab Project, para wanita Muslim berjilbab membagikan cerita tentang pengalaman mereka berjilbab. Ada banyak sekali kisah suka dan duka yang dibagi oleh para wanita muslim berjilbab. 

Ada yang pernah dipanggil teroris, tetapi ada juga yang malah dilamar oleh seorang pria karena kekaguman pria tersebut melihat sang wanita terlihat anggun dengan memakai jilbab. Di dalam proyek ini, para wanita non-muslim juga bisa mencoba untuk membagikan cerita dan pengalamannya saat mencoba untuk berjilbab di tempat umum. 

Dengan cara ini, para wanita baik muslim dan non-muslim bisa semakin saling mengerti dan memahami satu sama lain. Beberapa teman Amara Majeed telah mencoba memakai jilbab di publik. Dan dari teman-temannya itu mengaku bahwa pengalaman benar-benar bisa membuka mata dan membuat mereka lebih berpikiran terbuka. Majeed kini merasa bahwa hijab sesungguhnya membebaskan. 

"Orang-orang melihatku dari sisi siapa aku bukan dari bagaimana penampilanku," jelasnya. Setiap kontributor yang menulis di website The Hijab Project memiliki cerita yang beragam. Salah satunya adalah masih ada yang mendapatkan diskriminasi dan penolakan saat ia memakai jilbab di depan publik. Beberapa wanita berjilbab juga masih ada yang merasa tertekan oleh teman sekelas mereka dan orang-orang yang mereka temui. Majeed memang adalah warga Amerika dan dia berjilbab, 

dia menyatakan bahwa masih ada anggapan bahwa wanita yang sudah menggunakan kerudung akan dianggap sebagai bukan orang Amerika atau sebagai orang asing. Perjuangan Majeed masih akan terus berlanjut. Semuanya adalah agar sudah tidak ada lagi salah pengertian atau perspektif yang salah tentang wanita berjilbab. Selain sibuk dengan The Hijab Project, Majeed juga mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah. Semoga sukses selalu untuk proyeknya, Majeed.

source by vemale.com

Gelisah Menghantui

Posted by Unknown On 21.10
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? 

Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya? 

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk. Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. 

Siapa saja bisa masuk. Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah? Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. 

Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya. Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul. Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. 

Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas. Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. 

Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib. Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. 

 Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan? 

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini: "Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Bersyukur

Posted by Unknown On 21.03
Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. 


Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu. Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. “Akh... Aku sudah menua. 


Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?” Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian. 


“Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang,” terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah. Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia. Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, 


“Huah! Tuhan, terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hambamu hendak beristirahat.” Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.


Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa ramah, 
“Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini.” 
“Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?” 
tanya si pedagang. “Silakan.” “Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?”
 “Tidak, Pak Tua. 

Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap hari aku bisa bekerja dengan sebaik2nya dan pastinya aku tidak harus mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana. Ya kan? Dan akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua pemberiannya ini”. 

 Mari, jangan sampai kita menjadi budaknya materi. Mampu bersyukur merupakan kebutuhan manusia. Mari kita berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri, lingkungan kita, dan bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga, kita senantiasa bisa menikmati hidup ini penuh dengan sukacita, syukur, dan bahagia.

Bersedekah Dulu Baru Kaya

Posted by Unknown On 20.59
Banyak orang berpikir harus punya banyak uang dahulu untuk bersedekah. Akibatnya, sedekah pun tak segera dilaksanakan lantaran belum juga kaya raya. Sebuah pesantren di Lamongan, Jawa Timur sejak dini mengajarkan kepada para santrinya untuk bersedekah kepada sesama. 

Bukan cuma uang yang disedekahkan, apa saja yang dimiliki demi untuk membantu sesama bisa disedekahkan, keahlian sekali pun. Uniknya, pesantren yang berada di Desa Turi, Kecamatan Turi, Lamongan ini kerap membagi-bagikan lampu bekas kepada warga sekitar, tentunya yang masih bisa dipakai. Bagaimana ceritanya? "Ini soal prinsip, ideologi. 

Dulu founding father kami, guru kami mengajarkan kami sedekah jangan kaya dulu. Kemudian apa yang bisa kita sedekahkan kepada orang lain meski kita gak punya," kata Gus Naim, salah satu pengasuh Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) kepada merdeka.com, Kamis (27/2). Gus Naim bercerita, awalnya para santri di pesantren yang dia asuh memiliki kebiasaan mengotak atik barang-barang elektronik bekas yang sudah rusak dan akhirnya bisa dihidupkan kembali. Sehingga akhirnya tercetuslah ide untuk memanfaatkan lampu-lampu yang sudah tak terpakai, di otak atik kembali dan akhirnya bisa dimanfaatkan dan dibagikan secara cuma-cuma kepada warga. 

 "Di sini semua kerusakan bisa diselesaikan sendiri, misalnya sanyo, lampu dan lain-lain," kata Gus Naim. "Jadi apa yang bisa kita berikan, termasuk skill ya kita sedekahkan," imbuhnya. Gus Naim berbagi cerita soal bagaimana menghidupkan kembali lampu yang sudah rusak dan tak terpakai. Lampu-lampu yang didapatkan dari door to door rumah warga dan diambil dari tempat-tempat sampah tersebut dibongkar kembali, kemudian dilihat onderdilnya yang rusak di bagian mana. Jika ada onderdil yang gak bisa dipakai, dibelikan penggantinya dengan harga yang sangat murah, antara Rp 500-700 saja. "Kalau yang rusak tabungnya, kami belum mampu membuat teknologinya atau pun menyervisnya," ungkap Gus Naim. Setelah diperbaiki, lampu tersebut dibagikan kepada para warga sekitar yang membutuhkan. Gratis, tis, tis.

source by merdeka.com

Kisah Umar Prihatin Pada Rakyat Miskin

Posted by Unknown On 20.53
Krisis itu masih melanda Madinah. Korban sudah banyak berjatuhan. Jumlah orang-orang miskin terus bertambah. Khalifah Umar Bin Khatab yang merasa paling bertanggung jawab terhadap musibah itu, memerintahkan menyembelih hewan ternak untuk dibagi-bagikan pada penduduk. Ketika tiba waktu makan, para petugas memilihkan untuk Umar bagian yang menjadi kegemarannya: punuk dan hati unta. Ini merupakan kegemaran Umar sebelum masuk islam. “Dari mana ini?” Tanya Umar. “Dari hewan yang baru disembelih hari ini,” jawab mereka. “Tidak! Tidak!” kata Umar seraya menjauhkan hidangan lezat itu dari hadapannya. “Saya akan menjadi pemimpin paling buruk seandainya saya memakan daging lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat.” 

 Kemudian Umar menuruh salah seorang sahabatnya,” Angkatlah makanan ini, dan ambilkan saya roti dan minyak biasa!” Beberapa saat kemudian, Umar menyantap yang dimintanya. Kisah yang dipaparkan Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya ar-Rijal Haular Rasul itu menggambarkan betapa besar perhatian Umar terhadap rakyatnya. Peristiwa seperti itu bukan hanya terjadi sekali saja. Kisah tentang pertemuan Umar dengan seorang ibu bersama anaknya yang sedang menangis kelaparan, begitu akrab di telinga kita. Ditengah nyenyaknya orang tidur. 

Ia berkeliling dan masuk sudut-sudut kota Madinah. Ketika bertemu seorang ibu dan anaknya yang sedang kelaparan, Umar sendiri yang pergi mengambil makanan. Ia sendiri juga yang memanggulnya, mengaduknya, memasaknya dan menghidangkannya untuk anak-anak itu. Keltika kelaparan mencapai puncaknya Umar pernah disuguhi remukan roti yang dicampur samin. Umar memanggil seorang badui dan mengajaknya makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum badui itu melakukannya terlebih dahulu. Orang badui sepertinya sangat menikmati makanan itu. 

“Agaknya Anda tidak pernah merasakan lemak?” Tanya Umar. “Benar,” kata badui itu. “Saya tidak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang-orang memakannya sampai sekarang,” tambahnya. Mendengar kata-kata sang badui, Umar bersumpah tidak akan makan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar-benar dibuktikan. Kata-katanya diabadikan sampai saat itu, “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenayangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya.” Padahal saat itu Umar bisa saja menggunakan fasilitas Negara. Kekayaan Irak dan Syam sudah berada ditangan kaum Muslimin. Tapi tidak. Umar lebih memilih makan bersama rakyatnya. Pada kesempatan lain, Umar menerima hadiah makanan lezat dari Gubernur Azerbeijan, Utbah bin Farqad. Namun begitu mengetahui makanan itu biasanya disajikan untuk kalangan elit, Umar segera mengembalikannya. 

Kepada utusan yang mengantarkannya Umar berpesan, “Kenyangkanlah lebih dulu rakyat dengan makanan yang biasa Anda makan.” Sikap seperti itu tak hanya dimiliki Umar bin Khattab. Ketika mendengar dari Aisyah bahwa Madinah tengah dilanda kelaparan. Abdurrahman bin Auf yang baru pulang dari berniaga segera membagikan hartanya pada masyarakat yang sedang menderita. Semua hartanya dibagikan. Ironisnya, sikap ini justru amat jauh dari para pejabat sekarang. Penderitaan demi penderitaan yang terus melanda bangsa ini, tak meyadarkan mereka. Naiknya harga kebutuhan pokok sebelum harga BBM naik dan meningkatnya jumlah orang-orang miskin, tak menggugah hati mereka. Bahkan, perilaku boros mereka kian marak. Anggota Dewan yang ditunjuk rakyat sebagai wakil, justru banyak yang berleha-leha. Santai dan mencari aman. Pada saat yang sama, para pejabat yang juga dipilih langsung, tak pernah memikirkan rakyat. Yang ada dalam benak mereka , 

bagaimana bisa aman selama lima tahun ke depan. Mereka yang dulu vocal mengkritik para pejabat korup dan zalim, justru kini diam. Ia takut kalau kursi yang saat ini didudukinya lepas. Sungguh jauh beda dengan Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat Rasulullah saw. Ketika suatu saat dia cukup pedas mengkritik para pejabat di Madinah, Ustman bn Affan memindahkannya ke Syam agar tak muncul konflik. Namun, ditempat inipun ia melakukan kritik tajam pada Muawiyah bin Abu Sufyan agar menyantuni fakir miskin. Muawiyah pernah mengujinya dengan mengirimkan uang. Namun ketika esok harinya uang itu ingin diambilnya kembali, ternyata Abu Dzar telah membagikannya pada fakir miskin. 

 Sesungguhnya, negeri kita ini tidak miskin. Negari kita kaya. Bahkan teramat kaya. Tapi karena tidak dikelola dengan baik, kita menjadi miskin. Negeri kita kaya, tapi karena kekayaan itu hanya berada pada orang-orang tertentu saja, rakyat menjadi miskin. Kekayaan dimonopoli oleh para pejabat, anggota parlemen dan para pengusaha tamak. Di tengah suara rintihan para pengemis dan orang-orang terlantar, kita menyaksikan para pejabat dan orang-orang berduit dengan ayik melancong ke berbagai negari. Mereka seolah tanpa dosa menghambur-hamburkan uang dengan membeli barang serba mewah. Ditengah gubuk-gubuk reot penuh tambalan kardus bekas, kita menyaksikan gedung-gedung menjulang langit. Diantara maraknya tengadah tangan-tangan pengemis, mobil-mobil mewah dengan santainya berseleweran. Pemandangan kontras yang selalu memenuhi hari-hari kita. Dimasa Umar bin Abdul azis, umat islam pernah mengalami kejayaan. Kala itu sulit mencari mustahiq (penerima) zakat. 

Mereka merasa sudah mampu, bahkan harus mengeluarkan zakat. Mereka tidak terlalu kaya. Tapi, kekayaan dimasa itu tidak berkumpul pada orang-orang tertentu saja. Disinilah peran zakat, infak dan shadaqah. Tak hanya untuk ‘membersihkan’ harta si kaya, tapi juga menuntaskan kemiskinan. Jika ini tidak kita lakukan, kita belum menjadi mukmin sejati. Sebab, seorang Mukmin tentu takkan membiarkan tetanggana kelaparan. Rasulullah saw bersabda, “Tidak beriman seseorang yang dirinya kenyang, sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Muslim) (Majalah Sabili no 7 Th XIII Judul Asli : "Prihatin pada Rakyat Miskin")
  • Unordered List

  • Contact us